Laman

Minggu, 27 Oktober 2013

Parasite Single

Pernah denger istilah Parasite Single?

Dalam bahasa Jepangnya disebut パラサイトシングル atau dibaca Parasaito Shinguru, adalah pria atau wanita lajang, berusia 20-37 tahun yang masih tinggal bersama orangtuanya.

Istilah bahasa Indonesianya sih Anak Mami kali ya :D

Jadi si PS-PS ini, keenakan melajang dan meniti karir. Mereka ngga mau terikat dalam pernikahan. Bagi mereka, yang merasa udah susah payah masuk Universitas keren, harus lah bekerja sampai dapat gaji atau jabatan yang oke. Intinya sih ngga mau punya tanggung jawab dulu..

Pacaran sih tetep ya, tau lah kalo di Jepang, pacaran selama 3 bulan tapi ngga ngapa-ngapain, bukan pacaran namanya.. Si cowok berhak mutusin si cewek. Ini aku tau dari native speaker di kampus ku dan beberapa orang temen yang asli orang Jepang.
Tapi ngga semuanya begitu, mungkin sebagian kecil ada yang ngga memberlakukan 'aturan' tersebut. Selalu mikir jangan suka menyamaratakan pihak ya.. :p


Ilustrasi wanita kantoran Jepang

 Ilustrasi pria kantoran Jepang


Trus kenapa mereka mau melekat terus bagaikan parasit ya?
Ternyata ada berbagai hal :


1) Tidak sanggup membayar pajak
Untuk sebuah keluarga, Jepang menerapkan aturan untuk membayar pajak sekian persen. Biaya hidup yang tinggi membuat Parasite Single harus berpikir 2x, apakah siap untuk membentuk sebuah keluarga ataupun tidak.

2) Kewajiban membiayai pendidikan anak setinggi mungkin
Kebanyakan mereka menganggap anak adalah anugerah paling indah dari Tuhan dan merupakan reinkarnasi dari para leluhur *nanti akan aku bahas lain kali*, sehingga anak adalah segalanya. Peran ibu sangat lah penting di sini. Selain mengurus rumah tangga, ibu juga harus selalu memerhatikan anak. Bagaimana mereka di sekolah, prestasinya, teman-temannya, dll. Jika sang anak jahat ataupun bodoh, maka ibu lah yang disalahkan.
Biaya pendidikan itu bukannya sedikit. Jepang menggratiskan sekolah dari SD sampai SMP, tapi untuk Universitas sangat mahal. Makanya ngga heran kalo mahasiswa di Jepang masih aja kerja part-time di toko-toko ataupun restoran.

3) Gaji kurang banyak
Per tahunnya pekerja di Jepang mendapatkan gaji sekitar 200 juta rupiah. Kelihatannya banyak ya, per bulan bisa mengantongi 16 juta rupiah? Tapi di Jepang, biaya hidup itu mahal. Tanah di Jepang benar-benar mahal. Untuk sewa rumah atau apartemen kecil aja biayanya 7-9 juta per bulan. Jika berkeluarga, otomatis mereka memerlukan ruang yang cukup luas untuk anak-anak mereka.

4) Jam kerja yang lama
Orang Jepang memang sangat setia dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Kalo mereka disuruh lembur sama bos, mereka mau aja tuh nurut tanpa banyak omong. Jadinya gitu pulang langsung tidur, ngga sempat urus keluarga lagi.

5) Suka main judi, karaoke dan minum-minum
Abis pulang kerja, asyiknya senang-senang kan? Begitu lah dengan orang Jepang. Mereka suka banget habisin waktu buat have fun. Karaoke sambil mabuk-mabukan bukan lah hal yang aneh di sana. Mungkin kecapekan karena terlalu bersemangat kerja kali ya? Jadi lebih boros dan ngga pandai atur uang.


Itu lah kenapa si Parasit Single hobi banget ngendon di rumah orang tuanya. Males urus ini itu, maunya tinggal enak aja. Bangun tidur uda ada yang beresin, siapin makan dan masih ditanggung pulak. Kasihan banget deh para orang tua yang punya anak tipe begini. Mau diusir ngga tega, mau diem aja kok rasanya aseeeem tenan. :p

Akibatnya yah bayi di Jepang itu jadi langkaaa banget. Malah banyak TK, playground dan SD yang tutup karena uda jarang ada anak kecil di sana. Serem banget ya.. :(

Ternyata negara semaju dan semodern Jepang juga punya masalah besar. Kirain Indonesia aja. Wkwkwk..
Yah semoga Indonesia yang rakyatnya banyak, punya SDM yang berkualitas juga. Biar ngga kalah sama Jepang atau negara lainnya. ^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar