Laman

Jumat, 23 Agustus 2013

Tes Keperawanan Siswi SMA Sederajat

Kayaknya ini topik yang lagi hot banget yah. Beritanya ada di mana-mana dan bermunculan semua, mulai dari surat kabar, infotainment sampe internet. Dan ekspresi yang pertama kali keluar dari diri ku adalah WOW..

Siapa yang pertama kali mencetuskan ide ini? Boleh klik di sini ya..

Setuju atau ngga, pastinya hal ini menimbulkan pro dan kontra. Sesuai dengan ajaran Islam, seorang wanita diharamkan untuk memberikan kehormatannya kepada laki-laki selain suaminya yang sah. Dan seorang wanita yang telah akil baligh juga tidak boleh melakukan hubungan intim dengan laki-laki yang bukan suaminya. Ini disebut zina. Dan Allah SWT melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan ini.

Dan Indonesia yang merupakan negara timur, juga memiliki budaya tersendiri. Sangat mementingkan norma-norma, terutama norma asusila.

Saya pantengin tuh TV One yang mewawancarai seorang anggota DPD dari Prabumulih - Sumatera Selatan dengan Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait. Ngga saya ikutin dari awal sih, hanya setengah sampai akhir aja. Dan saya rasanya lebih pro dengan pendapat Pak Arist.

Sebagian pendapat beliau bisa kita baca di sini ya..

Selalu tentang moral.
Selalu tentang seks bebas.

Andai tes ini beneran ada, apa bener bisa langsung mengubah moral?
Apa bener langsung ngga ada yang namanya seks bebas?

Moral seharusnya ditanam sejak kecil. Dari orang tua, sekolah dan terutama lingkungan. Makanya dari kecil, Mama Papa dan keluarga kita kebanyakan memantau pertemanan kita. Baik ngga sih temennya, suka nakal atau bolos ngga sih? Kalo kita temenan sama pemakai narkoba, apa kita ngga pakai narkoba juga? Ada yang iya, ada yang ngga juga. Ini temen loh fren, lo cobain deh, enak rasanya, kata temen kita itu. Yang namanya teman, emang beneran mau jeblosin temennya?

Balik lagi ke topik.
Kalo si anak ini, berprestasi atau ngga, trus tes keperawanannya mengatakan bahwa ia ngga lulus, selanjutnya apa? Mau diasingkan kah? Mau dikeluarkan dari sekolah kah? Atau bagaimana?

Dan kalo si anak ini memang uda ngga perawan, tapi karena korban dari pemerkosaan, apa ngga hancur hati si anak? Trauma yang mendalam, psikologisnya pasti langsung down. Gimana dia menata hidupnya agar kembali normal seperti dulu lagi dengan melupakan segala hal yang ia alami. Ah.. Ngga adil banget deh. Sumpah.

Anggota DPD tadi keukeuh juga mengatakan bahwa hasil tes keperawanan ini ngga akan diumumkan. Lah trus buat apa dites? Karena kepo aja? Untuk kepentingan apa dan siapa?

Dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 :
"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan."

Tanpa syarat.
Ngga kaya, ngga miskin.
Apalagi perawan atau ngga perawan.

Kenapa ngga sekalian aja mahasiswi juga dites keperawanannya? Atau karyawati? Toh seenggaknya mentalnya uda lebih kuat dari anak SMA, yang usianya paling masih 15-18 tahun. Masih cencen.

Mendikbud sendiri juga ngga setuju loh sama tes keperawanan ini. Klik aja.

Bukan solusi deh kayaknya.
Memang menyangkut privasi, dan melanggar HAM. Bukannya aku sependapat dengan masalah HAMnya ya, tapi yang aku liat ngga ada manfaatnya dengan adanya tes keperawanan ini.

Kecuali tes ini diberlakukan untuk calon istri polisi, atau keperluan visum, ya boleh lah ya..

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. setuju, kita hidup kan punya agama... percaya adanya tuhan dan hari akhir... dalam agama sudah ada tata cara dalam menjalani kehidupan dengan baik, lalu kenapa kita dengan sengaja mengabaikan ajaran yang diberikan oleh Tuhan melalui para Utusan-Nya, malah membuat buat peraturan sendiri.
    Sudah jelas Sholat itu Wajib, mencegah perbuatan "keji dan mungkar" ada didalam kitab suci yang kita percaya namun tidak di amalkan. "Apa sebenarnya Agamamu?" ,, mengapa anak sedari kecil di ajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Kepercayaannya ? anak kecil dibanggakan jika pintar berbahasa inggris atau menyanyi. Namun membaca kitab suci 1 (Satu) huruf pun tidak benar/fasih. "Apa sebenarnya Agamamu"?... Ada lagi hukum Agama yang sangat tegas dan bertujuan agar tidak ada lagi terulang kejahatan malah dianggap terlalu Kejam dan tidak sesuai dengan HAM, Apa sih HAM itu? apakah hukum HAM menjamin kriminalitas berkurang atau berhenti? TIDAK! justru system HAM itu membuat kriminalitas semakin bertambah. Apa sebab? Contoh... orang yang berzinah akan berfikir 1.000 kali jika hukuman berzinah itu dihukum cambuk sampai mati. sedangkan kalau hanya dipenjara atau di nikahkan secara terpaksa akan ada banyak orang yang justru menganggap yang penting dirinya dapat kepuasan seks walau harus dihukum sedemikian rupa, benar TIDAK?
    menutup aurat diWajibkan bertujuan untuk menjaga kehormatan wanita malah dibalik, aurat dibuka seterbuka bukanya untuk menunjukkan ke seksian tubuhnya, ya malah mengundang itu namanya.
    Yang membuat hukum harusnya takut kepada Tuhan yang dipercayanya yang akan menghukumnya di akhirat kelak dengan hukuman 1.000 kali lebih sakit dari apapun didunia ini, bukannya takut kepada hukuman dunia. Apa kamu takut jika seandainya hukuman korupsi itu di potong tangannya? berarti kamu berniat untuk melakukan korupsi atau kamu takut tiba-tiba kamu suatu saat nanti kamu terjerat kasus korupsi?

    BalasHapus